Tags

Jogjakarta, 13 Januari 2014

Saya orang yang tidak konsisten. Saya membuat banyak sekali blog tapi saya hampir tidak memiliki sesuatu yang bisa dibagi. Padahal sesungguhnya saya punya, hanya entah kenapa itu tidak saya lakukan. Alasannya karena menulis di blog membutuhkan koneksi dan saya sering tidak sabar menunggu proses dan tetek bengek lainnya. Namun kali ini, setelah saya membaca dari beberapa buku yang saya beli tanpa basa-basi (sebenarnya hanya berniat untuk membeli, bukan membaca), saya mencoba untuk serius menulis. Tentang apapun. Tentang nafas dan udara, mata dan objek, kulit dan sentuhan, lidah dan rasa, hati dan luka. Apapun. Bahkan dosa sekalipun, saya mencoba untuk menceritakannya disini karena ini sebuah catatan saya untuk refleksi diri, bukan untuk konsumsi orang lain.

Sebenarnya saya tidak perlu memperkenalkan diri, namun saya berpikir bahwa saya di masa datang mungkin akan lupa dengan diri sendiri. Ah, tapi tidak perlu jika saya harus menyebutkan nama, nama saya terlalu bagus untuk dipamer-pamerkan. Apakah saya aneh? Menurut saya tidak karena faktanya nama saya hanya satu-satunya di dunia ini. Ya, saya mencintai nama pemberian dari orang tua saya. Nama itu sangat berharga, bahkan saya tak akan rela untuk menukar atau menjualnya ke orang lain. Saya bangga dengan nama saya karena tidak banyak orang yang punya. Selain itu, nama saya memang lain dibandingkan dengan saudara saya yang lain. Nama yang artinya sederhana, namun menciptakan getaran-getaran yang asyik ketika diucapkan. Nama saya terdengar mesra hingga membuat saya mencintai diri saya sendiri. Tidak perlu heran karena selama saya hidup hingga saat ini saya belum pernah memiliki pacar. Oh, tapi jangan salah. Ada banyak yang mengantri dan merayu saya untuk menjadi pacarnya. Saya hanya tidak mau, tidak tertarik, dan tidak menginginkan mereka. Kejam? Dosa? Saya bukan orang baik? Izinkan saya tertawa. Itu pemikiran Anda, tapi saya pikir bukan begitu.

Saya sudah mengatakan bahwa karena nama yang diberikan orang tua saya, saya mencintai diri saya sendiri. Tapi tunggu, bukan berarti saya tidak butuh pacar atau pendamping hidup. Itu soal lain. Saat ini saya masih merasa muda untuk memiliki dan mendampingi seseorang. Lagipula, mungkin saja mereka hanya ingin memiliki nama saya, bukan diri saya. Tapi tidak akan saya perbolehkan mereka mencumbunya, memeluknya, atau mengawininya. Tidak.

Saya belum rela melepas nama saya untuk orang lain dan membiarkannya mengucap dengan perasaan kasih yang melebihi saya. Tidak.

Nama saya terlalu berharga dan terlalu berat, bahkan di akhirat kelak mereka tidak akan mau menanggung dosa-dosa yang saya perbuat. Tidak.

Cinta manusia hanyalah omong kosong.

Advertisements